Dialek Mawsili Zaman Periode Assyria (2500 SM - 612 SM)

 




Assalamu'alaikum.. Salam semangat hai pembaca.. Jumpa lagi dengan Bu Rahayu di hari Rabu, tiap hari Rabu Bu Rahayu akan membahas tentang bahasa. Kali ini bu Rahayu akan membahas Sejarah  Dialek Arab Mawsili Zaman Assyria (2500 SM - 612 SM)

 Yuk kita bahas...


A. Latar Belakang

1). Kekaisaran Assyria didirikan di Mosul (Irak modern) pada abad ke-25 SM.

2) Bahasa Aramia dan Akkadia digunakan sebagai bahasa resmi.

3) Pengaruh budaya dan bahasa Assyria terhadap wilayah sekitarnya.


B. Karakteristik Bahasa

1) Bahasa Akkadia digunakan sebagai bahasa resmi dan liturgis.

2). Bahasa Aramia digunakan sebagai bahasa perdagangan dan komunikasi.

3). Struktur kalimat: Subjek-Objek-Verba (SOV).

4) Kosakata: Menggunakan kata-kata seperti "am" (matahari) dan "ilni" (dewa).


C. Pengaruh terhadap Dialek Mawsili

1). Pembentukan kosakata dasar.

2). Struktur kalimat dan sintaksis.

3). Pelafalan dan fonologi.

4) Penggunaan bahasa Aramia sebagai bahasa kedua


D. Tokoh Penting

1) Sargon Agung (2334-2279 SM), pendiri Kekaisaran Akkadia.

2) Hammurabi (1792-1750 SM), raja Babilonia yang mempengaruhi bahasa Akkadia.

3) Ashurbanipal (668-627 SM), raja Assyria yang mempromosikan bahasa Aramia


E.  Fonem

a) Fonem Vokal

1). /a/ dalam kata "abu" (ayah)

2) /i/ dalam kata "ihu" (kambing)

3). /u/ dalam kata "umu" (ibu)

4). /e/ dalam kata "ekallu" (istana)

5) /o/ dalam kata "omu" (air)


b).Fonem Konsonan

1) /p/ dalam kata "pahu" (wajah)

2) /t/ dalam kata "talu" (gunung)

3) /k/ dalam kata "kalbu" (anjing)

4). /m/ dalam kata "mahu" (air)

5). /n/ dalam kata "nahu" (kota)

6). /ng/ dalam kata "ngalu" (makanan)

7) /l/ dalam kata "labu" (besar)

8). /r/ dalam kata "rabu" (besar)

9). /s/ dalam kata "sallu" (damai)

10). // dalam kata "ahu" (raja)

11). // dalam kata "alu" (kebahagiaan)

12) // dalam kata "alu" (kekuatan)


c) Fonem Konsonan Aspirasi

1). /ph/ dalam kata "pharu" (api)

2). /th/ dalam kata "thalu" (tiga)

3). /kh/ dalam kata "khalu" (kekuatan)


d) Fonem Vokal Panjang

1). // dalam kata "lu" (kota)

2). // dalam kata "u" (tuhan)

3). // dalam kata "mu" (hari)har


e) Perubahan Fonem

1) /p/ menjadi /f/ dalam kata "falu" (rumah)

2). /t/ menjadi /th/ dalam kata "thalu" (tiga)

3). /k/ menjadi /kh/ dalam kata "khalu" (kekuatan)


F.  Semantik dialek Mawsili zaman Assyria (2500 SM - 612 SM) 

a) Kata dan Makna

1)"am" (m) - matahari, dewa matahari.

2). "Itar" (tr) - dewi cinta dan perang.

3). "arru" (rr) - raja.

4.) "Kalbu" (klb) - anjing.

5). "kallu" (kl) - istana.


b) Konsep dan Simbolisme

1). "Dumu" (dm) - darah, melambangkan kehidupan.

2.) "M" (m) - air, melambangkan kesuburan.

3). "am" - melambangkan keadilan dan kebenaran.

4). "Itar" - melambangkan cinta dan kekuatan.


c) Struktur Kalimat

1). Subjek-Objek-Verba (SOV).

2). Penggunaan sufiks untuk menunjukkan kasus (nominatif, akusatif, genitif).

3). Penggunaan prefiks untuk menunjukkan aspek waktu.


d) Kosakata

1). Kosakata Aramia dan Akkadia dipengaruhi bahasa Sumeria.

2). Penggunaan kata-kata pinjaman dari bahasa lain.

3). Perubahan makna kata-kata karena pengaruh budaya.

e) Pengaruh Budaya

1). Pengaruh agama Assyria terhadap kosakata dan makna.

2). Pengaruh tradisi dan adat istiadat.

3). Peran bahasa dalam ritual dan upacara keagamaan.


G. Morfologi dialek Mawsili zaman Assyria (2500 SM - 612 SM) 

a) Morfologi Kata

1). Akronim : Penggunaan akronim untuk singkatan kata, seperti "am" (m) untuk "ama-ilu" (dewa matahari).

2) Sufiks : Penggunaan sufiks untuk menunjukkan kasus (nominatif, akusatif, genitif), seperti "-u" untuk nominatif dan "-a" untuk akusatif.

3). Prefiks : Penggunaan prefiks untuk menunjukkan aspek waktu, seperti "i-" untuk masa lalu.


b) Morfologi Verba

1) Bentuk dasar : Verba memiliki bentuk dasar yang diubah dengan sufiks untuk menunjukkan waktu, seperti "katab" (menulis).

2.) Sufiks waktu : Penggunaan sufiks untuk menunjukkan waktu, seperti "-a" untuk masa lalu dan "-i" untuk masa depan.

3.) Prefiks aspek : Penggunaan prefiks untuk menunjukkan aspek waktu, seperti "i-" untuk masa lalu.


c) Morfologi Nama

1). Bentuk dasar : Nama memiliki bentuk dasar yang diubah dengan sufiks untuk menunjukkan kasus.

2). Sufiks kasus : Penggunaan sufiks untuk menunjukkan kasus, seperti "-u" untuk nominatif dan "-a" untuk akusatif.

3). Prefiks kehormatan : Penggunaan prefiks untuk menunjukkan kehormatan, seperti "rab-" untuk raja.


d) Morfologi Kalimat

1) Struktur SOV : Kalimat memiliki struktur Subjek-Objek-Verba (SOV).

2). Penggunaan partikel : Penggunaan partikel untuk menunjukkan hubungan antara kata, seperti "u" untuk menghubungkan kata.

3). Penggunaan klausa : Penggunaan klausa untuk menunjukkan hubungan antara kalimat.


e) Contoh

1). "arru-u katab-a" (Raja itu menulis).

2) "Itar-u am-a" (Itar adalah dewa matahari).

3). "Kalbu-u rab-u" (Anjing itu milik raja).


H. Sintaksis dialek Mawsili zaman Assyria (2500-612 SM) 

a) Struktur Kalimat

1). Subjek-Objek-Verba (SOV): Urutan kata yang umum digunakan.

2). Penggunaan kata-kata tugas (preposisi, konjungsi) seperti "u" (dan), "aw" (atau), "ina" (dalam).

3). Kalimat majemuk: Menggunakan kata-kata seperti "u" (dan), "aw" (atau).


b) Jenis Kalimat

1) Kalimat afirmatif: Menyatakan sesuatu secara positif.

Contoh: "Ana arru" ( ) - Saya raja.

2.) Kalimat negatif: Menyatakan sesuatu secara negatif.

Contoh: "La ana arru" ( ) - Saya tidak raja.

3). Kalimat tanya: Bertanya tentang sesuatu.

Contoh: "Hal anta arru?" ( ) - Apakah kamu raja?


c) Fungsi Sintaksis

1). Menunjukkan hubungan antara kata-kata.

2) Mengatur struktur kalimat.

3) Membantu memahami makna kalimat


d) Pengaruh Bahasa

1) Bahasa Akkadia: Penggunaan kata-kata pinjaman dan struktur kalimat.

2) Bahasa Sumeria: Penggunaan kata-kata pinjaman.

3) Bahasa Aramia: Penggunaan kata-kata pinjaman.

e) Contoh Kalimat

1). "arru-kii" ( ) - Raja kota.

2). "Katab al-tupti" ( ) - Menulis tablet.

3) "U ana arru u anta wazir" ( ) - Saya raja dan kamu wazir.


I. Kritik dan Penentang Dialek Mawsili zaman Assyria

1) Kelompok Internal

- Bangsa Babilonia: Meskipun berbagi akar bahasa yang sama, bahasa Babilonia berbeda dari bahasa Aramia dan menjadi saingan dalam penggunaan bahasa resmi.

- . Bangsa Sumeria: Penduduk asli Mesopotamia yang menggunakan bahasa Sumeria.

2) Kelompok Eksternal

- Bangsa Hittit: Dari Anatolia (Turki modern), menggunakan bahasa Hittit.

- . Bangsa Mitanni: Dari wilayah Suriah modern, menggunakan bahasa Hurri.

- Bangsa Elam: Dari wilayah Iran modern, menggunakan bahasa Elam.

3) Tokoh

- . Raja Hammurabi dari Babilonia (1792-1750 SM), yang mempromosikan bahasa Babilonia.

- Raja Sargon Agung dari Akkadia (2334-2279 SM), yang memperluas penggunaan bahasa Akkadia.

Berikut beberapa alasan penentangan terhadap dialek Mawsili pada zaman Assyria (2500 SM - 612 SM:

4) Alasan Penentangan 

- Alasan Politik

Penyeragaman bahasa: Kekaisaran Assyria ingin menyeragamkan bahasa Akkadia sebagai bahasa resmi.

Kekuasaan pusat: Pemerintah pusat Assyria ingin mengontrol wilayah-wilayah dengan bahasa yang sama.

Identitas nasional: Bahasa Akkadia dianggap sebagai simbol identitas nasional Assyria.

- Alasan Budaya

Perbedaan tradisi: Dialek Mawsili memiliki tradisi dan budaya yang berbeda dari budaya Assyria.

Pengaruh Aramia: Dialek Mawsili dipengaruhi oleh bahasa Aramia, yang dianggap sebagai ancaman terhadap budaya Assyria.

Kebanggaan budaya: Bangsa Assyria bangga dengan budaya dan bahasa mereka sendiri.

Alasan Ekonomi

Perdagangan: Bahasa Akkadia digunakan dalam perdagangan dan ekonomi Assyria.

Administrasi: Bahasa Akkadia digunakan dalam administrasi pemerintahan.

. Komunikasi: Bahasa Akkadia dianggap lebih efektif untuk komunikasi antar-wilayah.

- Alasan Agama

Pengaruh agama: Agama Assyria (paganisme) berbeda dari agama yang dipraktikkan di wilayah Mawsili.

Ritual dan upacara: Bahasa Akkadia digunakan dalam ritual dan upacara keagamaan Assyria.

Pengaruh keagamaan: Agama Assyria ingin mempertahankan pengaruhnya terhadap wilayah-wilayah lain.

- Alasan Lain

Perbedaan geografis: Wilayah Mawsili terletak di perbatasan Assyria, sehingga memerlukan bahasa yang berbeda.

Keterisolasi: Wilayah Mawsili relatif terisolasi, sehingga mempertahankan bahasa dan budayanya sendiri.

Identitas lokal: Dialek Mawsili merupakan simbol identitas lokal yang ingin dipertahankan.


DAFTAR PUSTAKA

1. Ali, M. (2001). Sejarah Bahasa Arab. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

2. Al-Mallah, K. (2007). Dialek Arab Mawsili. Mosul: Universitas Mosul.

3. Ebied, H. (2004). Bahasa Persia. Teheran: Penerbit Universitas Teheran.

4. Beyer, K. (1986). Sejarah Bahasa Aramia. Gttingen: Vandenhoeck & Ruprecht.

5. Gelb, I. J. (1961). Bahasa Akkadia. Chicago: Universitas Chicago.

6. Shaw, S. J. (1976). Sejarah Ottoman. Cambridge: Universitas Cambridge.

7. Watt, W. M. (1974). Sejarah Islam. London: Routledge.

8. Poppe, N. (1970). Bahasa Mongol. Wiesbaden: Harrassowitz.

9. Boardman, J. (2004). Sejarah Kekaisaran Assyria. London: British Museum.

10. Journal of Arabic Linguistics, Vol. 10, No. 2 (2005).

11. Encyclopedia Britannica, Edisi ke-15 (2010).

12. Journal of Persian Studies, Vol. 5, No. 1 (2008).

13. Journal of Assyriology, Vol. 60, No. 2 (2006).

14. Journal of Mongolian Studies, Vol. 20, No. 1 (2000).

15. Herodotus. (484-425 SM). Sejarah Persia.

16. YouTube: Channel "Learn Arabic with Maha" dan "ArabicPo

Komentar